Hidup kita bisa dikatakan dibatasi oleh waktu. Takkan selamanya abadi, maka tentu sangat penting sekali untuk mengisi dan menghiasinya dengan kegiatan yang bervariasi. ini diharapkan agar hidup ini menjadi indah dan menyenangkan.

Selasa, 13 September 2011

Selasa, 31 Mei 2011

Rabu, 02 Maret 2011

Kaliber

  1. Fungsi

    Untuk memeriksa batas ukur secara langsung atau tidak langsung, sebagai alat pembanding ukuran.

  2. Ukuran pada kaliber

    Ukuran pda kaliber terbagi menjadi:

  • Ukuran standar sebagai acuan.

    Pada kaliber yang digunakan sebagai ukuran standar acuan adalah kaliber yang berbentuk blok ukur, yang dibuat khusus dengan ketelitian yang sangat tinggi. Blok ukur ini digunakan untuk mencocokkan ukuran dari alat – alat ukur dan digunakan pula sebgai alat kalibrasi untuk menera alat – alat yang aktif digunakan.

  • Ukuran standar batas atau limit.

    Kaliber ini mempunyai dua ukuran:

    • Ukuran maksimum yang diijinkan sebagai kaliber Go
    • Ukuran minimum yang diijinkan sebagai kaliber Not – Go

    Contoh:

    Suatu produk mempunyai ukuran diameter 22 mm dengan toleransi +0,5 mm dan -0,3 mm.

    Jawab:

    Kita perlu kaliber yang mempunyai ukuran maksimum 22 + 0,5 = 22,5 mm sebagai kaliber Go, dan ukuran minimum 22 – 0,3 = 21,7 mm sebagai kaliber Not – Go. Kaliber ini dapat kita buat atau kita stel dua buah jangka sorong pada ukuran – ukuran tersebut.

  1. Setel ukuran janka sorong pada ukuran minimum (Not – Go) yaitu ukuran 21,7 mm.
  2. Setel ukuran jangka sorong pada ukuran maksimum sebagai kaliber Go yaitu pada ukuran 22,5 mm.
  1. Prosedur pengukuran
    1. Siapkan benda ukur yang akan diperiksa.
    2. Tentukan batas – batas toleransinya, ukuran maksimum dan ukuran minimum.
    3. Siapkan dua alat ukur, misalnya jangka bengkok, mistar sorong, atau micrometer.
    4. Setel kedua alat ukur tersebut pada ukuran minimum sebagai kaliber Not – Go dan pada ukuran maksimum sebagai kaliber Go.
    5. Ukur produk atau benda kerja dengan kaliber Not – Go:

      Jika masuk:

      Berarti produk tersebut gagal dan merupakan benda reject.

      Jika tidak masuk:

      Berarti produk lolos pada pemeriksaan pertama dan memenuhi standar minimum.

    6. Pisahkan benda yang reject dan benda yang memenuhi standar minimum.
    7. Periksa produk yang telah memenuhi standar mimimum tersebut dengan kaliber kedua yaitu kaliber Go,

      Jika masuk:

      Berarti produk tersebut dinyatakan memenuhi standar toleransi yang diijinkan.

      Jika tidak masuk:

      Berarti benda tersebut masih mempunyai ukuran yang terlalu besar, dan harus dikerjakan kembali pada proses pemesinan lebih lanjut.

    8. Pisahkan produk yang memenuhi standar toleransi dengan produk yang harus dikerjakan lebih lanjut tersebut pada tempat yang telah disediakan.
  2. Alur pengukuran produk

    Pada QC (Quality Control) produk diukur dengan proses aliran sebagai berikut:

Alat ukur Pembanding ketinggian

Alat Ukur Pembanding Ketinggian

Alat ukur pembanding ketinggian disebut juga kaliber ketinggian adalah sebuah alat sebagai pembanding ukuran ketinggian standar dengan tinggi objek ukur yang terdiri atas:

  • Kaliber induk ketinggian
  • Blok geser, pupitas atau penggores.

    Prosedur dan teknik penggunaan alat ukur pembanding ketinggian:

  • Letakkan objek ukur, kaliber induk ketinggian dan blok geser pada meja rata.
  • Geserkan kaliber ketinggian (blok geser dan kelengkapannya) pada alat ukur (kaliber induk ketinggian) sebagai ukuran standar yang akan digunakan untuk mengukur atau membandingkan dengan ukuran objek ukur (benda kerja).
  • Usahakan ujung penggores atau sensor pada pupitas menyentuh permukaan blok ukur pada kaliber induk ketinggian. Stel pada posisi nol atau kencangkan baut pengikatnya jika menggunakan penggores.
  • Geserkan kaliber ketinggian (blok geser) yang telah diset ukuran ketinggiannya pada benda kerja.
  • Bandingkan ketinggian blok ukur dengan ketinggian kaliber apakah sama, lebih tinggi atau lebih rendah, memenuhi standar toleransi atau di luar standar toleransi yang diberikannya.
  • Simpulkan hasil pengukurannya:
    • Memenuhi standar ukuran yang diminta.
    • Tidak memenuhi standar toleransi yang diberikan.

Keterangan:

Untuk mengukur benda kerja yang ditoleransi kita harus membuat dua kaliber katinggian, yang terdiri atas:

  • Kaliber ketinggian yang diset untuk ukuran tinggi maksimum sebagai kaliber Go.
  • Kaliber ketinggian yang diset untuk ukuran tinggi minimum sebagai kaliber Not – Go.
  1. Pengesetan ukuran standar pada kaliber induk.
  2. Pengukuran pada objek ukur.

    Pengukuran ukuran standar ketinggian pada kaliber induk dengan menggunakan dial indicator atau pupitas. Ukuran diset pada ukuran nominal.

    Pengukuran kaliber induk pada objek ukur, langsung dapat diketahui toleransinya pada alat ukur pupitas atau dial indikatornya.

    Pada kaliber ini, tidak perlu dibuat dua kaliber, tetapi cukup diset pada dial indicatornya atau pada pupitasnya, mengenai besar toleransi yang diijinkan.

Jumat, 18 Februari 2011

Mengenal Proses Mesin konversi Energi

Mengenal Proses Mesin Konversi Energi


 


 

  1. Pengertian Energi


 

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. Menurut hukum Termodinamika Pertama, energi bersifat kekal. Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan, tetapi dapat berubah bentuk (konversi) dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain. Sebagai contoh pada proses pembakaran pada mesin mobil/motor (sistem motor pembakaran dalam), bensin satu liter dikonversi menjadi kerja yang berhasil guna tinggi, yakni menjadi energi gerak/mekanik pada mobil/motor, sehingga dapat memindahkan manusia/barang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam hal ini bensin satu liter memiliki energy dalam yang siap dirubah menjadi kerja yang berguna (availabilitas). Dengan kata lain availabilitas adalah kemampuan sistem untuk menghasilkan kerja yang berguna.


 

  1. Macam-Macam Energi
    1. Energi Mekanik

    Energi meknik merupakan energi gerak, misal turbin air akan mengubah energi potensial menjadi energi mekanik untuk memutar generator listrik.

    1. Energi Potensial

    Merupakan energi karena posisinya di tempat yang tinggi. Contohnya air waduk di pegunungan dapat dikonversi menjadi energi mekanik untuk memutar turbin selanjutnya dikonversi lagi menjadi energi listrik.

    1. Energi Listrik

    Energi Listrik adalah energi yang berkaitan dengan arus elektron, dinyatakan dalam Watt-jam atau kilo Watt-jam. Arus listrik akan mengalir bila penghantar listrik dilewatkan pada medan magnet. Bentuk transisinya adalah aliran elektron melalui konduktor jenis tertentu. Energi listrik dapat disimpan sebagai energi medan elektrostatis yang merupakan energy yang berkaitan dengan medan listrik yang dihasilkan oleh terakumulasinya muatan elektron pada pelat-pelat kapasitor.



Gambar 01. PLTA, konversi energi dari energi potensial, energy mekanik, dan energi listrik


 

  1. Energi Elektromagnetik

Energi elektromagnetik merupakan bentuk energi yang berkaitan dengan radiasi elektromagnetik. Energi radiasi dinyatakan dalam satuan energi yang sangat kecil, yakni elektron volt (eV) atau mega elektro volt (MeV), yang juga digunakan dalam evaluasi energi nuklir.

  1. Energi Kimia

Energi kimia merupakan energi yang keluar sebagai hasil interaksi elektron di mana dua atau lebih atom/molekul berkombinasi sehingga menghasilkan senyawa kimia yang stabil. Energi kimia hanya dapat terjadi dalam bentuk energi tersimpan. Bila energi dilepas dalam suatu reaksi maka reaksinya disebut reaksi eksotermis yang dinyatakan dalam kJ, Btu, atau kKal. Bila dalam reaksi kimia energinya terserap maka disebut dengan reaksi endodermis. Sumber energi bahan bakar yang sangat penting bagi manusia adalah reaksi kimia eksotermis yang pada umumnya disebut reaksi pembakaran. Reaksi pembakaran melibatkan oksidasi dari bahan bakar fosil.



Gambar 02. Accu sebagai bentuk energi kimia


 


 

  1. Energi Nuklir

Energi Nuklir adalah energi dalam bentuk energi tersimpan yang dapat dilepas akibat interaksi partikel dengan atau di dalam inti atom. Energi ini dilepas sebagai hasil usaha partikel-partikel untuk memperoleh kondisi yang lebih stabil. Satuan yang digunakan adalah juta electron reaksi. Pada reaksi nuklir dapat terjadi peluluhan radioaktif, fisi, dan fusi.



Gambar 03. Salah satu reaktor nuklir


 

  1. Energi Termal

Energi termal merupakan bentuk energi dasar di mana dalam kata lain adalah semua energi yang dapat dikonversikan secara penuh menjadi energi panas. Sebaliknya, pengonversian dari energi termal ke energi lain dibatasi oleh hukum Termodinamika II. Bentuk energi transisi dan energi termal adalah energi panas, dapat pula dalam bentuk energy tersimpan sebagai kalor "laten" atau kalor "sensible" yang berupa entalpi.



Gambar 04. Mesin konversi dari panas ke uap

  1. Energi Angin

Energi angin merupakan energi yang tidak akan habis, material utama berupa angin dengan kecepatan tertentu yang mengenai turbin angin sehingga menjadi gerak mekanik dan listrik.



Gambar 05. Pemanfaatan energi angin


 

  1. Klasifikasi Mesin-Mesin Konversi Energi

Mesin-mesin konversi energi secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mesin konversi energi konvensional dan mesin energy konversi non-konvensional. Mesin konversi energi konvensional umumnya menggunakan sumber energi konvensional yang tidak terbarui, kecuali turbin hidropower, dan umumnya dapat diklasifikasikan menjadi motor pembakaran dalam, motor pembakaran luar, mesin-mesin fluida, dan mesin pendingin dan pengkondisian udara. Mesin konversi energy non-konvensial umumya menggunakan energi yang dapat diperbarui, kecuali mesin energi konvensi berbahan dasar nuklir.

  1. Motor pembakaran dalam

Motor pembakaran dalam dikembangkan oleh Motos Otto, atau Beau de Roches merupakan mesin pengonvesi energi tak langsung, yaitu dari energi bahan bakar menjadi energi panas dan kemudian baru menjadi energi mekanis. Energi kimia bahan bakar tidak dikonversikan langsung menjadi energi mekanis. Bahan bakar standar motor bensin adalah isooktan (C8H18). Efisiensi pengonversian energinya berkisar 30% (ηt ±30%). Hal ini karena kerugian 50% (panas, gesek/mekanis, dan pembakaran tak-sempurna). Sistem siklus kerja motor bensin dibedakan atas motor bensin dua langkah (two stroke), dan empat langkah (four stroke).

  1. Motor Bensin Dua Langkah

Motor bensin dua langkah adalah motor yang pada dua langkah torak/piston (satu putaran engkol) sempurna akan menghasilkan satu langkah kerja.

a)    Langkah kompresi dimulai dengan penutupan saluran masuk dan keluar kemudian menekan isi silinder dan di bagian bawah, piston menghisap campuran bahan bakar udara bersih ke dalam rumah engkol. Bila piston mencapai titik mati atas, pembakaran dimulai.

b)    Langkah kerja atau ekspansi, dimuliai ketika piston bergerak mencapai titik tertentu sebelum titik mati atas busi memercikan bunga api, terjadilah kerja. Pada awalnya saluran buang dan saluran masuk terbuka. Sebagian besar gas yang terbakar keluar silinder dalam proses exhaust blowdown. Ketika saluran masuk terbuka, campuran bahan bakar dan udara bersih tertekan di dalam rumah engkol, mengalir ke dalam silinder. Piston dan saluran-saluran umumnya dibentuk membelokan campuran yang masuk langsung menuju saluran buang dan juga ditunjukkan untuk mendapatkan pembilasan gas residu secara efektif. Setiap siklus mesin dengan satu langkah tenaga diselesaikan dalam satu kali putaran poros engkol. Namun sulit untuk mengisi secara penuh volume langkah dengan campuran bersih, dan sebagian darinya mengalir langsung ke luar silinder selama langkah bilas.

  1. Motor Bensin Empat Langkah

Motor bensin empat langkah adalah motor yang pada setiap empat langkah torak/piston (dua putaran engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu langkah kerja).



Gambar 05. Siklus motor bensin 4 langkah


 

a)    Langkah pemasukan dimulai dengan katup masuk terbuka, piston bergerak dari titik mati atas dan berakhir ketika piston mencapai titik mati bawah. Udara dan bahan bakar terhisap ke dalam silinder. Langkah ini berakhir hingga katup masuk menutup.

b)    Langkah kompresi, diawali ketika kedua katup tertutup dan campuran di dalam silinder terkompresi sebagian kecil dari volume awalnya. Sesaat sebelum akhir langkah kompresi, pembakaran dimulai dan tekanan silinder naik lebih cepat.

c)    Langkah kerja, atau langkah ekspansi, yang dimulai saat piston hampir mencapai titik mati atas dan berakhir sekitar 45° sebelum titik mati bawah. Gas bertekanan tinggi menekan piston turun dan memaksa engkol berputar. Ketika piston mencapai titik mati bawah, katup buang terbuka untuk memulai proses pembuangan dan menurunkan tekanan silinder hingga mendekati tekanan pembuangan.

d)    Langkah pembuangan, dimulai ketika piston mencapai titik mati bawah. Ketika katup buang membuka, piston mendorong keluar sisa gas pembakaran hingga piston mencapai titik mati atas. Bila piston mencapai titik mati atas, katup masuk membuka, katup buang tertutup, demikian seterusnya..

e)    Perhitungan daya motor didasarkan pada dimensi mesin, antara lain:
 

Daya efektif    : Ne    = ((πD²/4).S.L.Pe.n)/(60.75.a)


Daya indikatif   : Ni    = ((πD²/4).S.L.Pi.n)/(60.75.a)


 

di mana     D    : diameter silinder (cm)

    L    : panjang langkah torak (m)

    I    : jumlah silinder

    Pe   : tekanan efek rata-rata (kgf/cm²)

    Pi   : tekanan indikatif rata-rata (kgf/cm²)

    N    : putaran mesin (rpm)

    a    : - dua langkah a=1

     - empat langkah a=2


 

  1. Turbin

Turbin adalah mesin penggerak, di mana energi fluida kerja dipergunakan langsung untuk memutar roda turbin. Jadi, berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak, pada turbin tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Bagian berputar dinamai stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya yang menggerakkan atau memutar bebannya (generator listrik, pompa, kompresor, baling-baling atau mesin lainnya). Di dalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi, yaitu proses penurunan tekanan, dan mengalir secara kontinu. Fluida kerjanya dapat berupa air, uap air, atau gas.



Gambar 06. Turbin air


 

Turbin dilengkapi dengan sudu-sudu. Pada roda turbin terdapat sudu dan fluida kerja akan mengalir melalui ruang di antara sudu tersebut. Apabila kemudian ternyata bahwa roda turbin dapat berputar, maka akan timbul gaya yang bekerja pada sudu. Gaya tersebut timbul karena terjadinya perubahan momentum dari fluida kerja yang mengalir di antara sudu. Jadi, sudu turbin haruslah dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat terjadi perubahan momentum pada fluida kerja tersebut.



Gambar 07. Turbin gas

Rabu, 16 Februari 2011

Pupitas/Dial Test Indicator

PUPITAS

(DIAL TEST INDICATOR)


 

  1. Fungsi

    Pupitas disebut juga jam ukur tes atau dial test indicator yang berfungsi untuk mengetahui:

  • Kerataan permukaan benda kerja.
  • Mengukur daerah toleransi suatu produk.

Perbedaan dengan dial indicator yaitu terletak pada sensornya. Sensor pada pupitas berupa lengan dengan ujung berbentuk boladan gerakkannya seperti busur, mempunyai kapasitas pengukuran yang lebih kecil yaitu antara 0,2 s/d 0,8 mm.


 

  1. Konstruksi

    Bagian – bagian pupitas terdiri atas:

  • Sensor yang berbentuk lengan
  • Blok gerak
  • Blok diam
  • Piring ukur
  • Rangka terbuat dari metal atau plastic


     

  1. Pemakaian

    Pupitas dipasang pada dudukan pemindah (transfer stand) dengan tiang dan lengan yang dapat diatur dengan baut penyetel atau pengaturan secara feksibel. Pupitas dan stand transfer dapat dilihat pada gambar berikut:






  2. Macam – macam pupitas

    Dilihat dari konstruksi piring pengukur, pupitas terdiri atas:

  • Pupitas dengan konstruksi piring ukur sumbunya sejajar dengan sumbu rangka.
  • Pupitas dengan konstruksi piring ukur sumbunya tegak lurus dengan rangkanya.
  1. Pupitas dengan piring ukur sejajar dengan rangka



    Ukuran pupitas menurut standar Din 2270 sebagai berikut:

Pembagian skala ukuran (mm)

Jarak gerak (t) mm

Diameter piring ukur (D) mm

Panjang sensor

Angka ukuran skala

0,01

0,01

0,01

0,01

0,002

0,002

0,8

0,8

0,5

0,5

0,2

0,2

32

40

32

40

32

40

12

12

35

35

12

12

0 – 40 – 0

0 – 40 – 0

0 – 25 – 0

0 – 25 – 0

0 – 100 – 0

0 – 100 - 0


 

  1. Pupitas dengan piring ukur tegak lurus dengan rangka




  1. Penggunaan
    1. Mengukur permukaan (kerataan) secara bertingkat.
    2. Mengukur celah (permukaan luar) pada poros kerah (colar)
    3. Mengukur kerataan permukaan dari lubang bertingkat.
    4. Mengukur lubang alur da kesejajaran sumbunya.
    5. Mengukur kesejajaran permukaan, baik permukaan luuar maupun dalam.
    6. Mengukur kerataan bidang horizontal maupun bidang miring.


       

  2. Kesalahan ukur

    Gerak dari sensor sewaktu melakukan pengukuran harus simetris dengan sumbu gerak yang sejajar dengan permukaan bidang ukur.

    Jika pemasangan pupitas tidak sejajar dengan permukaan bidang ukur atau pemasangannya mempunyai posisi yang miring, maka akan terjadi kesalahan ukur yang disebut: kesalahan cosinus.

    Kesalahan cosines adalah kesalahan yang terjadi akibat posisi pemasangan sensor yang miring (tidak simetris). Kesalahan cosinus dihitung dengan persamaan:

    T = M cos θ